Unsur-Unsur Pembuat Kubah Masjid

pembuat kubah masjid

Unsur utama Masjid adalah tempat untuk doa. Pada masa awal Islam ini adalah biasanya hanya pengadilan tertutup disebut Sahn. Masjid Umayyah di Damaskus dibangun pada awal abad ke-8 tempat Gereja Kristen telah untuk pertama kalinya ruang kolom. Kemudian tertutup doa kamar menjadi standar. Beberapa pembuat kubah masjid memiliki mimpi terpisah untuk perempuan orang lain memiliki sebuah loteng. Selain Masjid tertutup juga terdapat tempat-tempat terbuka doa. Mereka terutama digunakan untuk perayaan korban dan festival cepat-melanggar. Muslim berdoa menuju Ka’bah (Pusat tempat kudus di Mekkah). Kamar-kamar yang secara teratur berfungsi sebagai Ruang sembahyang menandai arah doa (Arab. kiblat) wajib. Sorot dikenali tembok kiblat disebut sudah cukup. Ini bisa menjadi garis atau Panah prasasti atau papan tulis dengan kata ‘Kiblat’ inskripsi lain serta cara kreatif atau bahkan doa niche disebut Mihr?b.

Tanda kiblat adalah unsur yang paling penting dari sebuah masjid. Mihr?b memiliki beberapa fungsi. Pada satu menandai kiblat di sisi lain tempat imam dalam doa sebelum kelompok. Selain itu pembuat kubah masjid memiliki efek akustik. Melalui bentuk setengah lingkaran atau multi sudut ceruk Mihrab Tilawah keras Echo Imam menjadi doa Kamar sehingga semua orang percaya dapat memahami kata-kata imam dan ikuti doa. Khotbah Jumat dibaca oleh sebuah mimbar yang disebut Minbar. Hal ini membuat Minbar di Mesjid Jumat elemen yang sangat diperlukan. Minbar melekat pada dinding kiblat selalu ke kanan Mihrab dan dapat dihubungi pada tangga frontal. CHUTBA dihentikan oleh imam berdiri di atas tangga.

Minbar Islam awal yang asli memiliki tiga tahap. Penting bahwa Nabi Muhammad selalu diberitakan dari tahap ketiga. Tingkat tertinggi Minbar telah selalu disediakan untuk nabi Imam berkhotbah dari tahap kedua. Minbar juga digunakan untuk akustik dan tampilan yang lebih baik. Pembuat kubah masjid tergantung pada pola dasar jadi harus memiliki setidaknya tiga langkah tapi selalu beberapa nomor tiga. Semakin besar masjid semakin tinggi Minbar harus. Doa pertama (azan) biasanya berlangsung dari menara. Dulu muadzin untuk tujuan ini naik ke menara dan dipanggil setia dari sana untuk doa. Saat ini namun melagukan Adzan biasanya ditularkan dari Menara melalui pengeras suara sementara muazin itu sendiri terletak di masjid.

Menara telah didirikan sejak sekitar 700 AD Tradisi ini mungkin pergi dari Suriah dimana menara gereja Kristen yang awal atau mercusuar terasing. Pada masa awal Islam muadzin disebut melagukan Adzan sebagian besar dari atap masjid. Menara ini juga memiliki berbagai jenis desain tergantung pada daerah. Di pembuat kubah masjid sering ada Galeri defensif (Dikka di istighotsah di masjid Turki). Dikka memiliki fungsi sebagai berikut: untuk satu di daerah ini muadzin imam dan penguasa menemukan tempat mereka pada Iqamah (“panggilan untuk doa”) disebut keluar di masjid atau Quran dibacakan. Dikka dengan demikian menyajikan akustik sehingga semua orang percaya bisa mendengar doa panggilan.

Di masjid modern dengan pengeras suara Dikka hanya memiliki karakter simbolis. Namun demikian terus melayani sebagai komponen tradisional dan daerah yang terpisah dari ulama dan cendekiawan. Dikka ini menurut rasio ukuran mesjid belakang atau pusat. Tergantung pada ukuran pembuat kubah masjid Dikka adalah hanya beberapa 30-40 cm di atas tanah atau bahkan tiga meter lebih tinggi. Di beberapa masjid terdapat satu yang melayani bacaan Alquran. Mereka disebut Kurs?.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *